SURABAYA, MASJID ANNUR — Tujuh orang pengurus Masjid An-Nur melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Bapak Mardiono di kawasan Kedurus, Surabaya, untuk menyampaikan maksud penggunaan sementara bagian garasi rumah sebagai ruang kelas Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) An-Nur.

Ketujuh pengurus tersebut yakni Ustadz Sarina, Ustadz Misnari, Bapak Agung, Bapak Imam, Bapak Eko, Bapak Giant, dan Bapak Mahrus. Rombongan berangkat dari Masjid An-Nur setelah melaksanakan salat Magrib berjamaah.

Dalam perjalanan menuju kediaman Bapak Mardiono, rombongan menyempatkan diri menunaikan salat Isya berjamaah di sebuah masjid di kawasan Wiyung. Setelah melanjutkan perjalanan dan mencari alamat yang dituju, rombongan akhirnya tiba di rumah Bapak Mardiono.

Kedatangan para pengurus Masjid An-Nur disambut hangat oleh Bapak Mardiono. Suasana silaturahmi berlangsung santai dan penuh keakraban, terlebih tuan rumah turut menyuguhkan minuman degan atau kelapa muda kepada para tamu.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus Masjid An-Nur menjelaskan maksud utama kedatangan mereka. Selain untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan, kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk menyampaikan permohonan izin secara langsung kepada pemilik rumah terkait rencana pemanfaatan garasi.

Ketua Takmir Masjid An-Nur, Ustadz Sarina, menyampaikan bahwa kebutuhan ruang kelas TPQ semakin mendesak seiring meningkatnya jumlah peserta didik pada tahun ajaran baru.

“Sekarang alhamdulillah sudah kita carikan dan ketemu. Dikasih informasi sama teman-teman yang memberikan informasi. Akhirnya kami cepat-cepat, ayo kita pertemuan saja, silaturahmi ke rumahnya. Ada teman-teman yang mendukung, jadi malam hari ini alhamdulillah kita bersilaturahmi bersama,” ujar Ustadz Sarina.

Menurutnya, perkembangan TPQ An-Nur dalam beberapa waktu terakhir cukup pesat. Jumlah pendaftar baru meningkat sehingga ruang belajar yang tersedia di lingkungan masjid tidak lagi mencukupi untuk menampung seluruh santri.

Pengurus kemudian menyampaikan permohonan agar garasi rumah milik Bapak Mardiono dapat dimanfaatkan sementara sebagai ruang kelas untuk kegiatan pembelajaran TPQ.

“Untuk tahun ajaran sekarang, TPQ alhamdulillah majunya sangat pesat. Pendaftaran tahun baru ini sangat banyak sampai kekurangan ruang kelas. Jadi tempat jenengan sekaligus kami minta izin, garasi rumah itu akan kami manfaatkan untuk ruang kelas sementara, itu pun kalau jenengan mengizinkan,” ujar salah satu pengurus.

Pengurus juga menegaskan bahwa pemanfaatan tempat tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah bangunan atau melakukan renovasi terhadap struktur rumah.

“Kami memanfaatkan itu bukan berarti merubah struktur bangunan, tapi cuma memanfaatkan tempat saja,” ujar Ustadz Misnari.

Ia menjelaskan, kebutuhan ruang kelas muncul karena kegiatan belajar TPQ yang berlangsung setiap sore, sekitar pukul 15.30 WIB hingga menjelang Magrib, telah memenuhi ruang-ruang yang tersedia di masjid.

Kondisi tersebut semakin terasa setelah pelaksanaan ujian TPQ dan dibukanya pendaftaran tahun ajaran baru. Para pengajar bersama pengurus masjid kemudian membahas kebutuhan tambahan ruang belajar agar kegiatan pembelajaran Al-Qur’an dapat berlangsung lebih nyaman dan tertata.

Dari pembahasan tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkan garasi rumah di sebelah masjid sebagai ruang kelas sementara. Namun, pengurus terlebih dahulu berupaya mencari informasi mengenai pemilik rumah sebelum menggunakan tempat tersebut.

Setelah melalui proses pencarian informasi selama hampir satu bulan, pengurus akhirnya mendapatkan informasi mengenai pemilik rumah dan dapat bersilaturahmi secara langsung dengan Bapak Mardiono.

Bapak Mardiono Berikan Izin

Permohonan tersebut mendapat tanggapan positif dari Bapak Mardiono. Pemilik rumah menyatakan tidak keberatan apabila bangunan yang saat ini belum ditempatinya tersebut digunakan sementara untuk kegiatan TPQ An-Nur.

“Mboten napa-napa, Pak. Nggih, mboten napa-napa. Tidak apa-apa ditempati untuk ruangan TPQ karena bangunan tersebut belum saya tempati,” ujar Bapak Mardiono.

Izin tersebut disambut rasa syukur oleh para pengurus Masjid An-Nur. Bagi pengurus, izin dari pemilik rumah menjadi bagian penting sebelum tempat tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan.

Pengurus kembali menegaskan bahwa penggunaan garasi hanya sebatas pemanfaatan ruang yang sudah ada dan tidak akan mengubah struktur bangunan. Ruang tersebut rencananya digunakan sebagai kelas sementara untuk mendukung kegiatan belajar mengaji para santri TPQ An-Nur.

Silaturahmi Berlangsung Hangat

Setelah pembahasan mengenai izin penggunaan garasi selesai, pertemuan dilanjutkan dengan obrolan santai mengenai rumah dan keluarga Bapak Mardiono. Suasana semakin cair ketika pembicaraan berkembang pada cerita mengenai kondisi bangunan dan beberapa pengalaman yang pernah terjadi di sekitar rumah tersebut.

Dalam kesempatan itu, para pengurus juga berbincang mengenai keberadaan fasilitas pendidikan lain di sekitar lokasi. Bapak Mardiono sempat menanyakan keberadaan lembaga pendidikan di sebelah timur rumah, yang kemudian dijelaskan oleh pengurus sebagai lembaga yang dikelola secara berbeda.

Percakapan berlangsung penuh keakraban. Beberapa cerita bahkan mengundang tawa antara kedua pihak, termasuk ketika membahas sebuah keranda yang sempat menimbulkan kesalahpahaman.

Bagi pengurus Masjid An-Nur, suasana tersebut menjadi bagian dari silaturahmi yang tidak hanya menghasilkan izin pemanfaatan tempat, tetapi juga membuka komunikasi yang lebih baik dengan pemilik rumah.

Pertemuan malam itu akhirnya menjadi langkah penting bagi TPQ An-Nur dalam menjawab kebutuhan ruang belajar yang semakin meningkat. Dengan adanya izin dari Bapak Mardiono, garasi rumah tersebut dapat dimanfaatkan sementara sebagai ruang kelas tanpa mengubah struktur bangunan.

Pengurus Masjid An-Nur berharap pemanfaatan tempat tersebut dapat memberikan ruang belajar yang lebih memadai bagi para santri, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mendukung perkembangan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan sekitar.

Silaturahmi tersebut ditutup dalam suasana penuh keakraban dan rasa syukur. Bagi kedua belah pihak, pertemuan tersebut menjadi contoh bahwa kebutuhan masyarakat dapat dicarikan jalan keluar melalui komunikasi, silaturahmi, dan semangat saling mendukung. *Mahrus